BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Jumlah infeksi HIV/AIDS terus bertambah diseluruh dunia, kasusnya terus meningkat sampai 100 kali lipat sejak pertama kali ditemu-kan dan menyebar paling sedikit 166 negara di-dunia (Figueroa et al., 2008). HIV/AIDS sudah merupakan global e!ect dengan kecepatan pe-nularan penyebaran yang sangat pesat 1 menit 5 orang tertular di seluruh dunia (Hawari, 2006; Waning et al., 2009). Menurut Vrisaba (2001), angka penularan HIV di benua Asia cukup tinggi, yakni 2000 sampai 3000 per hari, berarti dalam setahun. Penderita HIV akan bertambah lagi antara 700.000 sampai 1.000.000 orang. Sedangkan di Asia Tenggara jumlah penderita AIDS mencapai 4,6 juta orang dengan tingkat kematian anak sebesar 330-590 ribu dengan penambahan penderita baru sebesar 11,1 juta orang (Suyono, 2006).
Infeksi HIV di Indonesia sudah meru-pakan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian dan pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS semakin meroket. Menurut data Departemen Kesehatan RI, kasus AIDS per-tama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 dan sampai 31 Desember 2008 pengidap HIV berkisar 6.554 orang dan penderita AIDS 16.110 orang. Indonesia sudah memasuki ham-pir dua dekade epidemi HIV/AIDS, namun sampai saat ini belum ada upaya penanggu-langan nasional yang komprehensif serta men-jangkau setiap orang.
Data Departemen Kesehatan RI sam-pai dengan 31 Desember 2008, menyebutkan bahwa Propinsi Jawa Tengah menempati urutan ke-7 kasus AIDS terbanyak di Indonesia setelah propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Bali, dan Kalimantan Barat. Jumlah Kasus AIDS di Jawa Tengah yaitu se-banyak 530 orang, positif HIV 1.208 orang, dan 221 orang meninggal akibat penyakit ini. Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah cenderung mening-kat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Yayasan Spiritia, 2008). Kota Semarang adalah kota dengan jumlah kasus penderita HIV/AIDS terbesar di Jawa Tengah yaitu sampai dengan 31 Desember 2008 ditemukan sejumlah 175 kasus HIV/AIDS (Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2009)
Salah satu langkah penting untuk menanggulangi HIV/AIDS yaitu dengan meningkatkan ODHA yang minum obat Anti Retroviral (ARV) (Bateganya et al., 2005; Tsertsvadze et al., 2008). Dari hasil penelitian sudah membuktikan bahwa ARV efektif menurunkan infeksi HIV dan menemukan bahwa 80 % pasien terinfeksi HIV yang minum ARV dua kali sehari, kadar virus dalam darah tidak terdeteksi setelah enam bulan pengobatan (Farmacia, 2005). Namun sampai saat ini, distribusi terhadap ARV di beberapa negara masih terdapat berbagai kendala, diantarannya harga yang mahal (Moona et al., 2007; Wirtz et al., 2009). Selain mahal, kendala tersebut juga disebabkan oleh sulitnnya akses untuk mendapatkan ARV (Kitajima et al., 2004; Zhaoa, 2009).
Penggunaan obat ARV diperlukan ting-kat kepatuhan tinggi untuk mendapatkan ke-berhasilan terapi dan mencegah resistensi yang terjadi (Bachmann, 2006). Untuk mendapatkan respon penekanan jumlah virus sebesar 85% diperlukan kepatuhan penggunaan obat 90-95%, dalam hal ini ODHA harus minum obat rata-rata sebanyak 60 kali dalam sebulan maka pasien diharapkan tidak lebih dari 3 kali lupa minum obat (Somi et al., 2008; Kouandaa et al., 2009). Data WHO tahun 2006 menunjukkan bahwa kepatuhan rata-rata pasien pada terapi jangka panjang terutama HIV/AIDS di negara maju hanya sebesar 50%, sedangkan di negara berkembang, jumlah tersebut bahkan lebih rendah. Adanya ketidakpatuhan terhadap terapi ARV dapat memberikan efek resistensi obat sehingga obat tidak dapat berfungsi atau gagal (Ramiah and Reich, 2005). Berdasarkan peneli-tian pada tahun 2004, di Amerika Serikat dan Eropa didapatkan 10% dari infeksi baru HIV/ AIDS menunjukkan resistensi terhadap ARV (Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Depkes RI, 2006).
Berdasarkan data Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli HIV/AIDS Graha Mitra Semarang, didapatkan data pada tahun 2008 terdapat 28 ODHA yang berkonsultasi dan sedang menjalani terapi, yang sebelumnya ada 6 orang yang mengalami drop out terapi. Dari hasil wawancara dengan konselor LSM Graha Mitra Semarang didapatkan data bahwa ada beberapa kendala yang menyebabkan ODHA kesulitan dalam melaksanakan kepatuhan menjalankan terapi yaitu karena efek samping obat, lupa terhadap jadwal pengobatan, dan kurangnya pemahaman terhadap pengoba-tan. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka diangkat penelitian hubungan antara pengetahuan, motivasi, dan dukungan keluarga dengan kepatuhan terapi ARV pada ODHA (bimbingan LSM Graha Mitra Semarang). Pada akhirnya diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan angka kepatuhan berobat pada ODHA
Rumusan Masalah
Bagaima pengetahuan tentang terapi ARV pada pasien ODHA ?
Bagaimana pengaruh motivasi dan dukungan keluarga untuk kepatuhan terapi ARV pada ODHA.?
Tujuan Umum
Untuk mengkaji pengetahuan pasien ODHA
Untuk mengetahui pengaruh motivasi dan dukungan keluarga untuk kepatuhan terapi ARV pada ODHA
Tujuan Khusus
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan angka kepatuhan berobat pada ODHA
BAB II
PEMBAHASAN
Pengetahuan Terapi ARV pada ODHA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar responden memiliki pengetahuan baik sebesar 63,6 %. Berdasarkan uji statistik sher’s exact diperoleh nilai p= 0,026 (p<0,05) dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan bahwa Ho ditolak, yang artinya ada hubungan yang signi!kan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi ARV.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi ARV pada ODHA (Bachmann, 2006). Hal ini dapat dimengerti bahwa penderita yang mempunyai pengetahuan baik cenderung akan patuh dalam minum obat, sesuai dengan teori perilaku yang mengatakan bahwa perilaku seseorang terhadap sesuatu akan sesuai dengan tingkat pemahaman terhadap sesuatau tersebut.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak disadari oleh pengeta-huan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Muzaham, 1995).
Hal ini sejalan dengan Nasronudin dan Margarita (2007), bahwa berhasilnya pengelolaan dan perawatan terhadap penderita HIV/ AIDS tergantung pada kerjasama petugas kese-hatan dengan pasien keluarganya. ODHA yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang HIV/AIDS, kemudian selanjutnya mengubah perilakunya sehingga akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya, sehingga penderi-ta dapat hidup lebih lama. Konseling sangat diperlukan untuk memberikan pengetahuan terhadap ODHA dan penerimaan pasien terha dap sakitnya. Pengetahuan itu meliputi penger-tian tentang terapi ARV, pentingnya kepatuhan terapi, efek samping yang mungkin terjadi serta lama pengobatan (Zou et al., 2009). Dengan pengetahuan tinggi diharapkan ODHA menjalankan kepatuhan terapi ARV sesuai dengan aturan yang dianjurkan dokter (Nasronudin dan Margarita, 2007)
Pengaruh motivasi dan dukungan keluarga untuk terapi ARV pada ODHA
penelitian menunjukkan bahwa prosentase terbesar responden memiliki mo-tivasi tinggi sebesar 68,2%. Berdasarkan uji statistik !sher’s exact diperoleh nilai p= 0,007 (p<0,05) dengan taraf kepercayaan 95% me-nunjukkan bahwa Ho ditolak yang artinya adanya hubungan yang signi!kan antara moti-vasi minum obat dengan kepatuhan terapi ARV.
Hasil ini diperkuat penelitian Sulasmi dan Tambing yang menyatakan ada hubungan antara motivasi klien dengan program pengob-atan. Sedangkan penelitian Senewe dalam jur-nal ilmiah UNAIR menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan berobat pada penderita TB Paru di puskesmas Depok (Nasronudin dan Margarita, 2007).
Menurut Muzaham (1995) bahwa orang tidak akan mencari pertolongan medis bila mereka mempunyai pengetahuan dan motivasi minimal yang relevan dengan kesehatan, bila mereka memandang keadaan tidak cukup ber-bahaya, bila tidak yakin terhadap keberhasilan suatu intervensi medis dan bila mereka melihat adanya beberapa kesulitan dalam melaksana-kan perilaku kesehatan yang disarankan.
Hal ini sejalan dengan Menurut Azwar (2001) motivasi adalah dorongan untuk melakukan hal yang positif bagi dirinya dan orang lain. Motivasi adalah penggerak tingkah laku ke arah suatu tujuan dengan didasari adanya suatu kebutuhan yang dapat timbul dari dalam individu tersebut, atau dapat diperoleh dari luar dan orang lain/keluarga. Aspek-aspek motivasi meliputi memiliki sikap positif, berorientasi pada pencapaian suatu tujuan dan kekuatan yang mendorong pasien. Motivasi sangat diper-lukan dalam menjalankan kepatuhan terapi ARV, tanpa adanya motivasi terapi ARV tidak dapat dilanjutkan (Nursalam dan Ninuk, 2007).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosentase terbesar responden memiliki dukungan keluarga tinggi sebesar 72,7 %. Ber-dasarkan uji statistik !sher’s exact diperoleh nilai p= 0,023 (p<0,05) dengan taraf keper-cayaan 95% menunjukkan bahwa Ho ditolak yang artinya adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan terapi ARV.
Hasil ini diperkuat oleh penelitian Umayyah (2008) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat penderita TB Paru, dan penelitian Siti Mahmudah tentang kepatuhan berobat penderita kusta didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat pada penderita kusta, serta penelitian yang dilakukan oleh Atik Ristiyani tentang kepatuhan pemeriksaan rutin penderita DM didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga de-ngan kepatuhan pemeriksaan rutin penderita DM.
Hal ini sejalan dengan BKKBN (2000) dukungan dari anggota keluarga dan teman terdekat merupakan salah satu dukungan yang sangat diperlukan terhadap pelaksanaan terapi ARV dan berpengaruh besar bagi ODHA untuk memacu semangat hidupnya. Menurut Nursalam dan Ninuk (2007), beberapa pen-dapat mengatakan bahwa dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga merupakan sumber dukungan yang pa-ling penting. Dengan adanya dukungan keluarga diharapkan keluarga penderita HIV/AIDS memahami masalah HIV/AIDS, memberikan perhatian keparawatan bagi anggota yang menderita HIV/AIDS. Intervensi melalui terapi ARV secara rutin dan terus menerus sangat diperlukan oleh ODHA, karena itu diperlukan bantuan keluarga dan orang-orang terdekat untuk membantu mengingatkan penderita dalam mengkonsumsi obat pada jam yang tetap setiap hari, membawa obat saat bepergian, dan me-rencanakan kapan mendapatkan obat selanjutnya setelah persediaan obat telah habis (In-fokes, 2007).
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dari hasil penelitian, dapat ditarik simpulan berupa tiga variabel yang diteliti yaitu pengetahuan, motivasi, dan dukungan keluarga berhubungan dengan kepatuhan terapi ARV. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p=0,026; CC=0,464 untuk variabel pengetahuan; nilai p=0,007; CC=0,528 untuk variabel motivasi; nilai p=0,023; CC=0,467 untuk variabel dukungan keluarga.
Saran
Bagi ODHA (orang dengan HIV/ AIDS) agar lebih patuh dalam menjalankan terapi ARV dan tetap aktif dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) guna berbagi pe-ngalaman dan informasi.
Bagi keluarga, perlu memberikan dukungan dan motivasi yang kuat agar ODHA dapat patuh untuk selalu memi-num ARV secara teratur.
Bagi tenaga kesehatan perlu pemantauan terhadap ODHA dalam menjalankan terapi ARV yang meliputi monitoring kepatuhan, monitoring efek sam-ping, dan monitoring keberhasilan terapi ARV serta perlu pengawasan untuk meminimalkan terjadinya drop out terapi ARV agar dapat me-ningkatkan kualitas hidup ODHA.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, A. 2001. Prinsip Dasar Motivasi Pelaksanaan Program Kesehatan. Jakarta: EGC
Nasronudin dan Margarita. 2007. Konseling, Du-kungan, Perawatan dan Pengobatan ODHA. Surabaya: Airlangga University Press
Sulasmi, N. dan Tambing, M.T. 2005, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Klien Menarik Diri dalam Mematuhi Program Pengobata. Jurnal Ilmiah, 7 (2): 2-5.
Umayyah, F. 2008. Hubungan antara Dukungan Ke-luarga sebagai PMO dengan Kepatuhan Bero-bat Penderita di BP4, Klaten. Skripsi. Jogja-karta: Universitas Gajah Mada
Komentar
Posting Komentar