Langsung ke konten utama

STIGMA pada ODHA

STIGMA MASYARAKAT TERHADAP ORANG DENGAN HIV/AIDS

KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2018-2019

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat  Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah. Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan HIV-AIDS
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penyusun memohon kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Penyusun











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Stigma Masyarakat Bila Berhadapan Dengan ODHA 4
2.2 Pengaruh Sikap Seseorang Terhadap ODHA Berdasarkan Pendidikannya 4
2.3 Peran Keluarga Terhadap ODHA 6
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan 8
3.2 Saran 8
DAFTAR PUSTAKA 9

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan Human Imunnodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma berasal dari pikiran seorang individu atau masyarakat yang memercayai bahwa penyakit AIDS merupakan akibat dari perilaku amoral yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. Stigma terhadap ODHA tergambar dalam sikap sinis, perasaan ketakutan yang berlebihan, dan pengalaman negatif terhadap ODHA. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang terinfeksi HIV/AIDS layak mendapatkan hukuman akibat perbu- atannya sendiri. Mereka juga beranggapan bahwa ODHA adalah orang yang bertanggung jawab terhadap penu- laran HIV/AIDS.1 Hal inilah yang menyebabkan orang dengan infeksi HIV menerima perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, dan stigma karena penyakit yang diderita. Isolasi sosial, penyebarluasan status HIV dan penolakan dalam pelbagai lingkup kegiatan kemasyarakatan seperti dunia pendidikan, dunia kerja, dan layanan kesehatan merupakan bentuk stigma yang banyak terjadi.1-3 Tingginya penolakan masyarakat dan lingkungan akan kehadiran orang yang terinfeksi HIV/AIDS menye- babkan sebagian ODHA harus hidup dengan menyem- bunyikan status.
Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi terbanyak keenam jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia. Sampai dengan Maret 2014, jumlah kumulatif infeksi HIV sebesar 7.584, sedangkan jumlah kumulatif AIDS sebanyak 3.339 kasus dengan 978 kasus kematian AIDS.6 Masih tingginya kematian ini kemungkinan besar disebabkan karena ODHA tidak memiliki kesempatan mendapatkan perawatan yang optimal akibat masih tingginya stigma di kalangan masyarakat.
Dengan pengetahuan dan pendidikan yang rendah, stigma dan diskriminasi ODHA masih banyak terjadi di masyarakat Kabupaten Grobogan. Sebagai contoh, apa- bila diketahui terdapat ODHA yang meninggal, akan sulit mencari orang yang bersedia untuk melaksanakan pemulasaran jenazah. Demikian juga banyak masyarakat yang menolak bersahabat dengan ODHA. Walaupun tidak sampai terjadi pengusiran ODHA dari lingkungan, namun masih banyak masyarakat yang enggan meli- batkan ODHA dalam kegiatan masyarakat.
Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya stigma pada ODHA di masyarakat. Pendidikan kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS dalam banyak penelitian dibuktikan seba- gai salah satu faktor yang paling memengaruhi ter- jadinya pengurangan stigma. Orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang faktor risiko, transmisi, pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS cenderung tidak takut dan tidak memberikan stigma terhadap ODHA.
Selain pengetahuan yang kurang, pengalaman atau sikap negatif terhadap penularan HIV dianggap sebagai faktor yang dapat memengaruhi munculnya stigma dan diskriminasi. Pendapat tentang penyakit AIDS meru- pakan penyakit kutukan akibat perilaku amoral juga sangat memengaruhi orang bersikap dan berperilaku ter- hadap ODHA.
Stigma terhadap ODHA adalah suatu sifat yang menghubungkan seseorang yang terinfeksi HIV dengan nilai-nilai negatif yang diberikan oleh mereka (masyarakat). Stigma membuat ODHA diperlakukan se- cara berbeda dengan orang lain. Diskriminasi terkait HIV adalah suatu tindakan yang tidak adil pada seseorang yang secara nyata atau diduga mengidap HIV.
Berdasarkan informasi dan data tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengana- lisis faktor yang memengaruhi terjadinya stigma masyarakat terhadap ODHA di Kabupaten Grobogan. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan masukan kepada pembuat kebijakan untuk mendukung program pengurangan stigma kepada ODHA sehingga memudahkan ODHA untuk mengungkapkan status dan memudahkan pengobatan serta pencegahan penularan kepada masyarakat hingga pada akhirnya akan memban- tu meningkatkan kualitas hidup ODHA.
Rumusan Masalah
Bagaimana stigma masyarakat bila berhadapan dengan ODHA ?
Bagaimana pengaruh sikap seseorang terhadap ODHA berdasarkan pendidikannya?
Bagaimana peran keluarga terhadap ODHA ?

Tujuan
Untuk mengetahui stigma masyarakat bila berhadapan dengan ODHA
Untuk mengetahui sikap seseorang terhadap ODHA berdasarkan pendidikannya
Untuk mengetahui pentingnya peran keluarga terhadap ODHA


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Stigma Masyarakat Bila Berhadapan Dengan ODHA
Stigma terhadap ODHA dalam penelitian ini adalah sikap dan perilaku negatif seseorang apabila berhadapan dengan ODHA. Fokus penelitian ini adalah mengidenti- fikasi bentuk stigma masyarakat terhadap ODHA dan menganalisis hubungan faktor determinan yang berkon- tribusi terhadap stigma masyarakat pada ODHA yang masih banyak terjadi di masyarakat.
Stigma muncul karena tidak tahunya masyarakat ten- tang informasi HIV yang benar dan lengkap, khususnya dalam mekanisme penularan HIV, kelompok orang berisiko tertular HIV dan cara pencegahannya termasuk penggunaan kondom.13,15 Stigma merupakan pengha- lang terbesar dalam pencegahan penularan dan pengo- batan HIV. Selain itu, stigma terhadap ODHA juga menyebabkan orang yang memiliki gejala atau diduga menderita HIV enggan melakukan tes untuk mengetahui status HIV karena apabila hasilnya positif, mereka takut akan ditolak oleh keluarga dan khususnya oleh pasangan. Munculnya stigma di masyarakat juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam penanggulangan HIV/AIDS.
Dalam hidup bermasyarakat, stigma juga menghala- ngi ODHA untuk melakukan aktivitas sosial. ODHA menutup diri dan cenderung tidak bersedia melakukan interaksi dengan keluarga, teman, dan tetangga. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat beranggapan bahwa orang dengan HIV positif adalah orang berperilaku tidak baik seperti perempuan pekerja seksual, peng- guna narkoba, dan homoseksual. Kelompok ini oleh se- bagian masyarakat dianggap memengaruhi epidemi HIV/AIDS dan membuat masyarakat menjadi menolak dan membenci kelompok tersebut.

2.2 Pengaruh Sikap Seseorang Terhadap ODHA Berdasarkan Pendidikannya
Lebih dari separuh responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan yang kurang tentang IMS dan HIV/AIDS dengan adanya beberapa pemahaman yang masih salah, seperti HIV dapat ditularkan melalui pakaian atau benda-benda yang dipakai oleh ODHA dan orang yang menderita HIV dapat menunjukkan gejala penyakitnya. Meskipun demikian, mayoritas responden juga memahami dengan baik bahwa HIV dapat ditu- larkan melalui hubungan seksual dan transfusi darah.
Pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat memengaruhi sikap seseorang terhadap penderita HIV/AIDS. Stigma terhadap ODHA muncul berkaitan dengan tidak tahunya seseorang tentang mekanisme penularan HIV dan sikap negatif yang dipengaruhi oleh adanya epidemi HIV/AIDS.14 Kesalahpahaman atau kurangnya penge- tahuan masyarakat tentang HIV/AIDS sering kali berdampak pada ketakutan masyarakat terhadap ODHA, sehingga memunculkan penolakan terhadap ODHA. Pemberian informasi lengkap, baik melalui penyuluhan, konseling maupun sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat berperan penting untuk mengurangi stigma.
Pemberian pengetahuan atau informasi terkait HIV adalah salah satu cara yang efektif untuk menjelaskan tentang pencegahan dan penularan HIV. Seseorang de- ngan pengetahuan yang baik dan benar terkait HIV di- harapkan dapat menurunkan bahkan menghilangkan stigma pada ODHA.18,20 Persepsi masyarakat terhadap ODHA memiliki pengaruh terhadap sikap dan perilaku memberikan stigma. Hasil penelitian sebelumnya menye- butkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian stigma HIV/AIDS dengan pengalaman sese- orang dalam berinteraksi dengan ODHA, juga berhubungan dengan pengalaman tentang adanya rasa malu dan menyalahkan yang berhubungan dengan penyakit AIDS.21,22 Demikian juga persepsi terhadap penderita AIDS akan sangat memengaruhi cara orang tersebut bersikap dan berperilaku terhadap ODHA.
Terkait dengan akses media informasi tentang HIV/AIDS, mayoritas responden pernah mendapatkan informasi terkait HIV/AIDS. Media televisi merupakan akses informasi yang dipilih sebagian besar responden untuk mendapatkan informasi tentang HIV. Selain media televisi, responden juga memperoleh informasi terkait HIV/AIDS melalui koran, radio, majalah, dan internet.
Media telah lama digunakan untuk memberikan in- formasi terkait HIV/AIDS dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pence- gahan penularan HIV/AIDS. Selain itu, informasi ten tang HIV/AIDS melalui media juga memberikan dampak dalam penurunan stigma masyarakat terhadap ODHA, meskipun hal tersebut belum terjadi di semua negara dan semua kalangan masyarakat. Masyarakat di daerah perkotaan cenderung lebih banyak memanfaatkan media dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Kelompok masyarakat dengan akses media lebih sering memiliki stigma yang lebih rendah dibandingkan dengan kelom- pok masyarakat dengan akses media yang kurang.

2.3 Peran Keluarga Terhadap ODHA
Keluarga merupakan lingkungan terdekat yang berin- teraksi dengan ODHA. Menurut responden, lebih banyak keluarga memiliki sikap yang positif terhadap ODHA dibandingkan dengan yang memberikan sikap negatif terhadap ODHA. Adanya perilaku keluarga yang memberikan stigma ODHA dapat memperkuat diskriminasi dan penolakan dari masyarakat. Stigma ter- hadap ODHA disebabkan karena keluarga merasa malu apabila mengetahui salah satu anggota keluarga adalah seorang penderita HIV sehingga ODHA juga dikucilkan dari keluarga. Ketakutan akan diperlakukan secara berbeda membuat ODHA sulit menjembatani diri dengan orang lain dan takut untuk berbagi pengalaman- nya, bahkan untuk menyatakan dirinya sakit.19,23,24 Sebaliknya, dukungan atau penghapusan stigma dari orang-orang di sekitar ODHA juga akan berdampak pa- da peningkatan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Dukungan sosial membuat penderita HIV tidak merasa sendiri, merasa disayangi dan mereka lebih berpeluang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh ODHA memungkinkan pen- ingkatan pengetahuan, saling berbagi informasi terkait HIV/AIDS serta meningkatkan kepatuhan terapi anti- retroviral (ARV). Keterbukaan dan rasa nyaman yang di- rasakan ODHA membuat mereka lebih mudah untuk menerima informasi.
Selain keluarga, tokoh masyarakat merupakan salah satu faktor lingkungan sosial memiliki peranan penting terjadinya stigma terhadap ODHA. Apabila seorang tokoh masyarakat memberikan stigma terhadap ODHA, masyarakat di sekitarnya memiliki kemungkinan juga akan terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Reaksi masyarakat terhadap ODHA memiliki efek besar pada ODHA. Apabila reaksi masyarakat bermusuhan, se- orang penderita HIV dapat merasakan adanya diskrimi- nasi dan kemungkinan dapat meninggalkan rumah atau menghindari aktivitas sehari–hari seperti berbelanja, bersekolah, dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Pada dasarnya, tokoh masyarakat berperan penting dalam menurunkan terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA karena tokoh-tokoh lokal merupakan model atau contoh yang biasanya menjadi panutan masyarakat, terutama pada masyarakat di daerah pedesaan. Tindakan dan sikap mereka dijadikan referen- si oleh masyarakat dalam mengubah perilaku sehat, ter- masuk yang terkait dengan penularan HIV, dan menu- runkan stigma terhadap ODHA. Oleh karena itu, pem- berian informasi yang komprehensif tentang HIV/AIDS kepada tokoh masyarakat menjadi sangat penting di- lakukan oleh petugas kesehatan, agar tokoh masyarakat dapat menularkan dan menyebarkan informasi yang be- nar kepada masyarakat, termasuk tentang menghilangkan stigma terhadap ODHA.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Faktor yang memengaruhi stigma terhadap ODHA di Kabupaten Grobogan adalah sikap keluarga terhadap ODHA dan persepsi responden terhadap ODHA. Keluarga dengan sikap negatif terhadap ODHA memili- ki kemungkinan empat kali lebih besar memberikan stig- ma terhadap ODHA, sedangkan responden dengan sikap negatif terhadap ODHA memiliki kemungkinan dua kali lebih besar dalam memberikan stigma terhadap ODHA.

3.2 Saran
Perlu pemberian informasi HIV/AIDS yang lengkap kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman yang dapat mengubah persepsi individu dan masyarakat ter- masuk keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat tentang ODHA. Selain itu, juga diperlukan upaya penurunan stigma terhadap ODHA melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan, sebagai contoh untuk meluruskan mitos dan penularan HIV/AIDS agar tidak terjadi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat terhadap ODHA.







DAFTAR PUSTAKA
Maman S, Abler L, Parker L, Lane T, Chirowodza A, Ntogwisangu J, et al. A comparison of HIV stigma and discrimination in five internation- al sites: The influence of care and treatment resources in high prevalence settings. Journal of Social Science & Medicine. 2009; 68 (12): 2271-8.
Duffy L. Suffering, shame, and silence: the stigma of HIV/AIDS. Journal of the Association of Nurses in AIDS Care. 2005; 16 (1): 13-20.
Carr RL, Gramling LF. Stigma: a health barrier for women with HIV/AIDS. Journal of the Association of Nurses in AIDS Care. 2004;15 (5): 30-9.
Foster G, Williamson J. A review of current literature of the impact of HIV/AIDS on children in Sub-Saharan Africa. AIDS. 2000; 14: 275-84.
Butt L, Morin J, Numbery G, Peyon I, Goo A. Stigma and HIV/AIDS in highlands Papua. Pusat Studi Kependudukan–Universitas Cenderawasih and University of Victoria. Canada: UNCEN UoV; 2010.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip Hidup dengan ODHA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hidup dengan ODHA selama ini selalu digambarkan dengan sebuah kondisi yang sulit untuk dikendalikan oleh kebanyakan orang namun pada kenyataanya hal ini merupakan cara yang mudah untuk dilakukan. Hidup dengan ODHA artinya menghilangkan segala batasan antara pasien dengan orang yang merawatnya, jika hal ini dilakukan dapat membantu pasien HIV untuk bangkit dari keterpurukan yang dialaminya. AIDS pada ODHA dapat ditekan apabila tubuh ODHA sehat, dan kesehatan ini secara langsung juga dipengaruhi oleh mental ODHA. Terus terang saja, Odha memang menarik. Odha direndahkan tapi diminati karena adagunanya. Orang mencibir padanya, tetapi tetap berusaha mengintip.Infeksi   HIV  (Human  Immunodeficiency   Virus)   maupun   status   AIDS  (AquirredImmunodeficiency  Syndrome)   dapat  menimbulkan   dampak yang  kompleks   terhadapaspek  bio-psik...

Family Center bersama ODHA

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Jumlah infeksi HIV/AIDS terus bertambah diseluruh dunia, kasusnya terus meningkat sampai 100 kali lipat sejak pertama kali ditemu-kan dan menyebar paling sedikit 166 negara di-dunia (Figueroa et al., 2008). HIV/AIDS sudah merupakan global e!ect dengan kecepatan pe-nularan penyebaran yang sangat pesat 1 menit 5 orang tertular di seluruh dunia (Hawari, 2006; Waning et al., 2009). Menurut Vrisaba (2001), angka penularan HIV di benua Asia cukup tinggi, yakni 2000 sampai 3000 per hari, berarti dalam setahun. Penderita HIV akan bertambah lagi antara 700.000 sampai 1.000.000 orang. Sedangkan di Asia Tenggara jumlah penderita AIDS mencapai 4,6 juta orang dengan tingkat kematian anak sebesar 330-590 ribu dengan penambahan penderita baru sebesar 11,1 juta orang (Suyono, 2006). Infeksi HIV di Indonesia sudah meru-pakan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian dan pertambahan jumlah penderita HIV/AIDS semakin meroket. Menurut data Departemen Kesehatan RI, ka...